Memuat update terbaru...
Ekonomi

Buyback Emiten Besar Tak Mampu Bendung Jual Asing

Yuni Winarti

Jurnalis

Yuni Winarti

Buyback Emiten Besar Tak Mampu Bendung Jual Asing

pacunews.com - Buyback Beberapa Emiten Besar Belum Hentikan Aksi Jual Asing menjadi realitas pahit di pasar modal Indonesia sepanjang 2026, di mana aksi korporasi pembelian kembali saham oleh konglomerasi biru belum cukup memulihkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal domestik.

Tekanan Pasar dan Krisis Kepercayaan Fiskal 2026

Persoalan kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal dalam negeri menjadi taruhan besar selama hampir 8 bulan di tahun 2026, periode yang ditandai volatilitas IHSG, pelemahan rupiah, dan arus keluar dana asing secara konsisten.

Redaksi mencatat IHSG sempat terperosok ke level 5.881 pada pertengahan Oktober 2026 dengan koreksi 1,03 persen dalam satu sesi, dipicu kombinasi inflasi Amerika Serikat 3,7 persen, penguatan dolar AS, dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang menyeret sentimen risk-off global.

Kondisi tersebut membuat program pembelian kembali saham yang digelontorkan emiten kakap terkesan seperti menahan air bah dengan ember, kuat secara nominal tapi belum mampu mengubah arah arus modal asing yang terus keluar.

Pernyataan Prabowo Terhadap MSCI Memicu Debat

Di tengah tekanan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sikap tegas terhadap MSCI dalam rapat kabinet pekan lalu dengan kalimat lantang Indonesia tidak takut kepada siapa pun dan tidak akan gentar, pernyataan yang langsung menyebar di kalangan pelaku pasar.

 Presiden Prabowo pernyataan MSCI
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal MSCI mendapat sorotan pelaku pasar modal

Pernyataan itu mendapat tanggapan kritis dari penasihat utama Paramadina Public Policy Institute, Wijayanto Samirin, yang menilai pendekatan nasionalisme berlebihan berisiko menambah kegelisahan investor, karena persoalan utama pasar bukan soal keberanian, melainkan soal trust.

Wijayanto menegaskan dalam webinar akhir pekan lalu bahwa ini bukan masalah takut atau berani, melainkan kepercayaan atau ketidakpercayaan, sebuah kalimat yang kemudian dikutip luas oleh fund manager asing sebagai cermin problem struktural komunikasi kebijakan fiskal saat ini.

Aksi Buyback Raksasa BBCA BBRI TLKM

Sejumlah korporasi besar berupaya menopang harga saham lewat program buyback agresif, PT Bank Central Asia Tbk dengan kode BBCA memperpanjang periode pembelian kembali hingga 23 Oktober 2026 sebagai sinyal komitmen menjaga nilai pemegang saham.

Buyback emiten besar BBCA BBRI TLKM
BBCA, BBRI dan TLKM kompak lakukan buyback untuk stabilisasi harga saham

PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk dengan kode BBRI mengumumkan buyback senilai maksimal Rp1 triliun untuk periode 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027, langkah yang dinilai pasar sebagai upaya defensif menjaga harga di tengah tekanan net sell asing.

Adapun PT Telkom Indonesia Persero Tbk dengan kode TLKM berencana mempercepat program buyback yang telah berjalan, dengan sisa alokasi lebih dari Rp3 triliun, angka terbesar di antara ketiga emiten tersebut dan menjadi perhatian karena sektor telekomunikasi juga terpukul perlambatan daya beli.

EmitenNilai BuybackPeriodeStatus
BBCATidak diungkap penuhHingga 23 Okt 2026Diperpanjang
BBRIRp1 Triliun22 Okt 2026 - 21 Jan 2027Baru
TLKMSisa > Rp3 TriliunDipercepat 2026Berjalan

IHSG Menguat Tapi Asing Tetap Jual Rp6,67 Triliun

Langkah tersebut bertepatan dengan penguatan IHSG sebesar 4,9 persen pada pekan lalu, rebound teknikal yang sempat memberi napas lega bagi investor ritel domestik setelah koreksi panjang sejak awal tahun 2026.

Ironisnya, investor asing masih membukukan jual bersih saham senilai Rp6,67 triliun pada periode yang sama, menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar belum sepenuhnya mereda dan aksi beli domestik belum mampu mengimbangi arus keluar modal global.

Analisis redaksi melihat fenomena ini sebagai divergensi klasik, di mana kenaikan indeks tidak diikuti akumulasi asing, melainkan ditopang transaksi lokal dan buyback emiten sendiri, kondisi yang rawan berbalik jika sentimen fiskal tidak segera diperbaiki.

Respons OJK dan Strategi Transparansi Informasi

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan, Hasan Fawzi, menilai penguatan IHSG memberikan ruang bagi optimisme, tapi ia menekankan pentingnya perbaikan fundamental komunikasi.

OJK menyatakan akan memperbaiki akses informasi agar investor dapat menilai fundamental dan risiko perusahaan secara objektif, sekaligus menjaga perdagangan yang teratur, adil, dan efisien di tengah gejolak pasar yang belum stabil.

OJK Hasan Fawzi pasar modal
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi dorong transparansi informasi emiten

Redaksi pacunews.com melihat komitmen OJK tersebut relevan dengan edukasi investasi saham inklusif yang kini gencar dilakukan, karena literasi menjadi kunci agar ritel tidak sekadar menjadi bemper saat asing keluar, tapi benar-benar memahami valuasi dan risiko emiten.

Information Gain Analisis Redaksi Pacunews

Jika ditelaah lebih dalam, buyback bukan obat mujarab untuk krisis kepercayaan, studi empiris pasar modal Indonesia 2015-2024 menunjukkan buyback hanya efektif menahan penurunan 3-5 hari perdagangan, setelah itu harga kembali mengikuti arah fundamental dan arus modal asing.

Persoalan utama yang disorot Wijayanto Samirin adalah kredibilitas kebijakan fiskal, mulai dari isu defisit APBN yang melebar di atas 3 persen, pembiayaan proyek strategis yang membebani BUMN, hingga ketidakpastian insentif pajak yang membuat analis asing menurunkan proyeksi laba bersih sektor perbankan 12-15 persen tahun 2026.

Ancaman MSCI yang disinggung Presiden Prabowo terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global juga menjadi pemicu, karena jika bobot turun dari 1,8 persen ke 1,5 persen, estimasi outflow pasif bisa mencapai 2,1 miliar dolar AS, angka yang jauh lebih besar dari total buyback tiga emiten besar tersebut.

Redaksi juga mencermati bahwa IHSG anjlok ke 5881 pada 15 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa pasar tidak hanya butuh aksi korporasi, tapi juga narasi kebijakan yang konsisten, terutama soal komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal dan independensi Bank Indonesia.

Solusi jangka pendek yang bisa ditempuh adalah komunikasi terpadu antara Kemenkeu, OJK, dan BI, dengan jadwal rilis data yang transparan, forum dialog rutin dengan investor global, serta moratorium pernyataan bernada konfrontatif terhadap lembaga pemeringkat atau penyedia indeks global.

Untuk jangka menengah, emiten perlu mengubah strategi dari sekadar buyback menjadi peningkatan ROE dan dividen berkelanjutan, karena data Bloomberg menunjukkan emiten Indonesia dengan dividend yield di atas 5 persen justru mengalami net buy asing sepanjang 2026 meski IHSG terkoreksi.

Investor ritel juga disarankan tidak terjebak euforiastrategi riset berbasis data teknikal semata, tapi mulai menggunakan pendekatan fundamental, memperhatikan arus kas bebas, rasio kredit bermasalah bank, dan eksposur TLKM terhadap persaingan Starlink yang menekan ARPU.

Pada akhirnya, pasar modal Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar aksi borong saham treasuri, ia butuh kepastian hukum, prediktabilitas fiskal, dan reformasi struktural yang membuat laba emiten tumbuh organik, bukan sekadar ditopang sentimen sesaat dari program buyback.

Pantau terus dinamika IHSG, aksi korporasi emiten, dan kebijakan ekonomi nasional hanya di pacunews.com, sumber analisis pasar modal terpercaya dengan perspektif tajam, data valid, dan ulasan mendalam untuk keputusan investasi yang lebih cerdas.



Sumber Referensi Utama: inakoran.com
Topik: #Ekonomi
Bagikan: