Memuat update terbaru...
berita

Pemicu Gempa M6,1 Sumba Barat Daya NTT: Analisis Sesar Aktif Waikabubak

Yuni Winarti

Jurnalis

Yuni Winarti

Pemicu Gempa M6,1 Sumba Barat Daya NTT: Analisis Sesar Aktif Waikabubak

pacunews.com - Pemicu Gempa M6,1 di Sumba Barat Daya NTT teridentifikasi berasal dari aktivitas sesar aktif di wilayah perairan selatan. Peristiwa tektonik ini menghentak penduduk pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026, tepat pukul 05.55 WIB saat sebagian besar warga memulai aktivitas harian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera merilis data teknis terkait guncangan tersebut. Lokasi episenter terpantau pada koordinat 9,84 derajat Lintang Selatan serta 118,9 derajat Bujur Timur. Titik koordinat ini menempatkan pusat gempa di laut, berjarak sekitar 59 kilometer arah barat daya Kodi, Sumba Barat Daya.

Guncangan yang semula tercatat berkekuatan magnitudo 6,1 ini memberikan dampak psikologis signifikan bagi warga di pesisir. Kedalaman sumber gempa yang dangkal memicu rambatan gelombang seismik yang dirasakan cukup kuat di daratan. Otoritas setempat terus memantau perkembangan situasi lapangan guna memastikan keselamatan publik.

Analisis BMKG Mengenai Pemicu Gempa Magnitudo 6,1 di Sumba Barat Daya

Gambar artikel

Plh Deputi Bidang Geofisika Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, memberikan penjelasan mendalam dalam konferensi pers daring. Beliau menegaskan bahwa berdasarkan kedalaman hiposenternya, ini merupakan kategori gempa bumi dangkal. Fenomena tersebut murni dipicu oleh pergerakan pada struktur geologi lokal yang aktif.

Aktivitas Sesar Waikabubak Menjadi Penyebab Utama Guncangan Dangkal

Investigasi awal tim geofisika menunjukkan keterkaitan kuat antara guncangan ini dengan Sesar Waikabubak. Struktur patahan ini memang dikenal sebagai zona aktif di wilayah Nusa Tenggara Timur. Pergerakan tiba-tiba pada bidang patahan tersebut melepaskan energi seismik yang besar ke permukaan bumi.

Karakteristik gempa dangkal akibat sesar aktif seringkali menghasilkan guncangan yang terasa tajam meski magnitudonya tidak mencapai kategori destruktif masif. Namun, Sesar Waikabubak memiliki potensi akumulasi energi yang patut diwaspadai secara berkala. BMKG menduga kuat adanya asosiasi langsung antara episenter gempa kali ini dengan jalur patahan tersebut.

Mekanisme Normal Fault dan Parameter Pemutakhiran Data Gempa Bumi

Hasil analisis mekanis menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun. Dalam terminologi geologi, kondisi ini disebut sebagai normal fault. Pergerakan lempeng atau blok batuan yang saling menjauh atau turun mengikuti gaya gravitasi menjadi ciri khas tipe patahan ini.

BMKG juga melakukan prosedur pemutakhiran data (update) terhadap parameter awal. Hasil analisis final menetapkan Magnitudo 5.9 sebagai kekuatan aktual gempa tersebut. Kedalaman pusat gempa juga dikalibrasi ulang menjadi 30 km di bawah permukaan laut.

Pemutakhiran parameter merupakan langkah standar guna memberikan akurasi data bagi keperluan mitigasi lanjutan. Angka magnitudo 5.9 tetap dianggap signifikan untuk memicu reaksi kewaspadaan tinggi di daerah terdampak. Berikut adalah rincian parameter teknis yang dirilis oleh BMKG:

Parameter Data Awal Pemutakhiran (Update)
Magnitudo M 6,1 M 5,9
Kedalaman Dangkal 30 Kilometer
Mekanisme Tektoneik Normal Fault (Turun)
Lokasi Barat Daya Kodi 59 Km Barat Daya Kodi

Sebaran Wilayah Terdampak Berdasarkan Skala Modified Mercalli Intensity

Gambar artikel

Rambatan energi gempa dirasakan di berbagai wilayah dengan intensitas yang bervariasi. Berdasarkan laporan masyarakat, dampak guncangan terbagi dalam beberapa tingkatan skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala ini menjadi acuan utama dalam mengukur sejauh mana persepsi getaran dirasakan oleh manusia dan bangunan.

Dampak Signifikan Skala VI MMI di Wilayah Kodi dan Sekitarnya

Intensitas tertinggi dilaporkan mencapai skala VI MMI. Wilayah yang merasakan dampak paling kuat meliputi Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan wilayah Kodi secara umum. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh hampir seluruh penduduk tanpa terkecuali.

Laporan dari lapangan menggambarkan kepanikan sesaat yang terjadi di pemukiman warga. Sebagian besar masyarakat terkejut dan berhamburan lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Meski guncangan terasa kuat, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan struktural bangunan yang masif di area pusat guncangan tersebut.

Getaran yang Dirasakan Penduduk di Kota Tambolaka Hingga Kota Bima

Di wilayah lain, getaran dirasakan pada skala IV MMI. Cakupan wilayah ini meliputi Kota Tambolaka, Kota Waikabubak, Kota Waibakul, hingga melintasi perairan menuju Kota Raba di Nusa Tenggara Barat. Warga yang berada di dalam rumah merasakan getaran yang cukup jelas, menyerupai guncangan saat benda berat menabrak dinding.

Sementara itu, jangkauan gempa meluas hingga ke Kota Bima dengan intensitas skala III MMI. Penduduk setempat melaporkan getaran nyata di dalam rumah, dengan sensasi seakan-akan ada truk besar yang sedang berlalu di depan kediaman mereka. Distribusi guncangan yang luas ini membuktikan energi yang dilepaskan Sesar Waikabubak cukup kuat menjangkau wilayah lintas provinsi.

Status Potensi Tsunami dan Protokol Keamanan Pasca Guncangan

Salah satu kekhawatiran utama pasca gempa di wilayah pesisir adalah ancaman gelombang pasang. Namun, Ardhasena Sopaheluwakan memastikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. Parameter kekuatan dan kedalaman 30 km tidak cukup kuat untuk memicu perpindahan volume air laut secara vertikal yang membahayakan.

BMKG menghimbau masyarakat agar tetap tenang namun waspada terhadap kemungkinan gempa bumi susulan. Warga diminta untuk memeriksa kondisi bangunan rumah masing-masing sebelum memutuskan kembali beraktivitas di dalam ruangan. Retakan sekecil apapun pada struktur utama bangunan perlu diwaspadai guna menghindari risiko jika terjadi guncangan susulan dengan skala lebih kecil.

Masyarakat juga diingatkan untuk hanya mempercayai informasi resmi yang disebarluaskan melalui kanal komunikasi BMKG yang telah terverifikasi. Langkah ini penting guna membendung peredaran berita bohong atau hoaks yang kerap muncul di tengah situasi kepanikan pasca bencana alam. Kesadaran akan mitigasi mandiri menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika geologi di wilayah Sumba dan sekitarnya.

Dapatkan informasi terkini seputar mitigasi bencana dan berita regional terbaru dengan terus mengikuti laporan mendalam hanya di pacunews.com.

Sumber Referensi Utama: Kompas.tv
Topik: #berita
Bagikan: